Antasari Azhar Saya Dikorbankan

11 Februari 2010 adalah hari kelabu bagi Antasari Azhar (AA) – Punggawa KPK kala itu resmi divonis 18 tahun penjara, lebih ringan dari tuntutan seumur hidup yang diajukan Jaksa. Sebelumnya, 11 Oktober 2009 AA diberhentikan permanen dari jabatannya setelah menyandang status terdakwa. Dakwaan yang dituduhkan kepadanya adalah bahwa ia sebagai dalang di balik pembunuhan direktur PT. Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen (NZ) dengan motif yang nggak aneh lagi; “wanita – tepatnya perebutan cinta seorang wanita – cinta segitiga”.

Kasus AA ini menyedot perhatian publik karena diyakini terdapat amat-sangat banyak kejanggalan di dalamnya. Kasus AA merupakan sebuah konspirasi kotor dari mereka yang ketakutan akan sepak terjang AA yang seperti bola liar – terjang sana – sini tak peduli siapa pun sasarannya. Ada amat banyak pihak yang terlibat di dalamnya, bahkan jika ditelusuri ada keterlibatan orang nomor satu Negeri ini yang menjabat saat itu. Semua tahu lah bagaimana AA dengan garangnya menyeret seorang mantan Deputi Bank BI yang notabene besan orang nomor satu tersebut. Ternyata, tak hanya itu motifnya – ada skenario yang terus digulirkan bagi AA untuk mengalihkan perhatian publik atas isu-isu politik yang merugikan dan menyudutkan partai penguasa kala itu.

Serangkaian peristiwa terungkap dan mengarah pada kesimpulan demikian; saat itu Presiden tengah berada dalam krisis jabatan menuju lengser dengan isu-isu korupsi yang menjerat beberapa kadernya. Presiden juga sempat keseleo lidah; “KPK terlalu superbody dan harus diwaspadai” dan ucapan lainnya; “Terkait KPK, saya wanti-wanti benar power must not go uncheck. KPK ini sudah powerholder. Pertanggungjawabannya hanya kepada Allah. Hati-hati.” Seolah ada ketakutan yang disembunyikan. Muncul-tenggelamnya Rani Juliani (wanita yang jadi rebutan AA dan NZ, katanya) ditengarai sebagai sebuah skenario pengalihan isu-isu tersebut yang membetot perhatian publik dan tanpa sadar terlupakan. Isu wanita-cinta segitiga-perselingkuhan merupakan ‘bahan’ yang tidak terlalu rumit untuk dicerna dan dinikmati, dan hampir semua orang menyukainya.

Ada banyak kejanggalan lain yang diungkap secara gamblang yang beberapa di antaranya belum diungkap di media. Beberapa kejanggalan kasus AA seperti :

1.Tidak pernah dipenuhinya permintaan pihak AA untuk ditunjukkan bukti SMS yang konon berisi ancaman AA terhadap NZ dan sebaliknya. Soal ini kemudian diulas olah saksi ahli IT ITB, Agung Harsoyo yang menyatakan bahwa SMS bisa saja dikirim dari nomor pemiliknya tetapi melalui webserver.

2.Tidak dipenuhinya permintaan pihak AA untuk menunjukkan baju yang dikenakan NZ saat ditembak. Saat di RS, menurut pengakuan Andi Syamsuddin Iskandar – Adik NZ, NZ sudah dalam keadaan tak berbaju dan kepala sudah digunduli.

3.Pernyataan ahli forensik Dr. Mun’im Idries (alm.) bahwa jenazah NZ sudah dimanipulasi sebelum diautopsi. Mun’im juga diminta oleh kepolisian untuk menghapus fakta temuan autopsi tentang ukuran proyektil yang sebenarnya. Ada peluru yang belum dikeluarkan tetapi sudah dijahit.

4.Berubah-ubahnya kesaksian Kombes Williardi Wizard dalam 5 kali kesaksiannya. Ternyata ada tekanan dan rekayasa dari kepolisian agar AA menjadi target utama dengan imbalan kebebasan bagi Williardi. Namun janji tak dipenuhi dan Williardi merasa dibohongi lalu membongkar semuanya. Tetapi POLRI ibarat buaya yang tak mudah disentuh meskipun bukti-bukti telah mengarah ke mereka. Wiliardi tidak dianggap dan tetap masuk bui.

5.Tak jelasnya rekaman yang diakui sebagai ‘kisah mesum’ antara Rani dan AA. Yang terdengar hanya suar cekikikan Rani, selebihnya tidak jelas sama sekali.

6.Dipublikasikannya motif pembunuhan pada hari yang sama NZ terbunuh. Motif langsung disebutkan sebagai ‘cinta segitiga’ dan AA telah dijadikan tersangka bahkan sebelum dilakukan penyelidikan. Kok bisa? Sebenarnya hanya ‘mencari’ skenario saja untuk AA. Apa pun ceritanya, target utamanya adalah AA.

7.Pernyataan Andi S. Iskandar bahwa ada beberapa polisi yang berupaya masuk ke ruangan dimana NZ dirawat dan menunjukkan perilaku yang mencurigakan. Setelah kepergok dan ditanya tujuannya, mereka pergi begitu saja. Melihat beberapa kejanggalan atas motif pembunugan NZ, Andi akhirnya berbalik membela AA, begitu pun dengan pengacaranya Boyamin yang menurut pengakuannya, ia menyesal karena sebelumnya telah melakukan konspirasi dengan Ersa Imelda Fitri dan Jeffry Lumempouw (yang menawarkan diri kepada Andi untuk menjadi saksi yang memberatkan AA di persidangan-penawaran, lagi-lagi pada hari yang sama saat NZ terbunuh dan dilakukan di RS. Aneh banget bukan?).

8.Masih ada banyak kejanggalan yang diungkap secara detil dengan fakta-fakta pendukungnya.

Ada satu bagian di mana Dr. Mun’im melakukan sebuah perbincangan dengan seorang Jaksa senior (Dr. Mun’im lupa namanya). Jaksa tersebut menyebutkan sebuah inisial sebagai dalang di balik kasus pembunuhan NZ. Dr. Mun’im pun tertawa dan mengatakan bahwa perkiraannya juga sama. Pak Mun’im pun secara implisit menyebutkan siapa sosok tersebut. Padahal di waktu lain, beliau jelas menyebutkan nama lengkap orang tersebut dengan setting waktu yang sama. Dia adalah orang Letjend. Purnawirawan yang menjadi bagian dari kementrian di Kabinet Bersatu II. Akankah bisa dibuktikan? Emang ada yang berani melawan buaya?

Selain itu, sebuah fakta mencengangkan juga dimunculkan. Pada pertengahan tahun 2011, ada sebuah surat kaleng yang berupa pengakuan dan permohonan maaf pelaku asli pembunuhan NZ kepada AA dan para tersangka lainnya yang harus dibui. Surat itu ditujukan kepada pengacara salah satu tersangka Daniel. Penulis surat kaleng yang mengaku sebagai sniper dengan inisial NN pun berjanji akan mengungkap siapa dalang yang sebenarnya jika ia mendapat jaminan perlindungan (serius nggak neh? Atau hanya ngasih angin surga?). NN juga mengatakan bahwa jika POLRI serius, kasus ini dapat terungkap sebab mereka sebenarnya tahu (emang bisa mereka serius buka borok sendiri?, buktinya hingga 4 tahun berlalu, tak ada respon positif dari POLRI).

Itu lah beberapa yang diungkap dalam buku ketiga AA yang ditulisnya dari balik jeruji besi dan di-launching di PN Tangerang, 4 Pebruari kemarin. Adalah Tofik Pram seorang jurnalis yang tergelitik dan tak kuasa menahan kecurigaannya atas kejanggalan-kejanggalan yang ada. Ia menuangkan temuan-temuannya terkait kasus AA ini dalam sebuah buku. Penulis mendapatkan informasi langsung dari sumber-sumber terpercaya. Sebagai sumber utama adalah Tim pengacara AA. Obrolannya dengan para tersangka, dan juga dr. Mun’im Idries. Maka kita akan mendapatkan informasi yang kaya, yang selama ini tidak terungkap ke publik. Kita bisa mendapatkan citarasa skenario di balik layar yang komplit dan menarik.

Seolah kita tengah disuguhi kisah detektif dengan fakta-fakta yang mencengangkan. Peristiwa disampaikan secara runut mulai dari terbunuhnya NZ lengkap dengan kronologisnya, penetapan AA sebagai tersangka hingga proses persidangan AA yang fenomenal dan memakan waktu berbulan-bulan dengan detil waktu, catatan kejadian, isi dan hasil persidangan.

Buku diperkaya juga dengan lampiran-lampiran transkrip persidangan; Saksi Ahli dan Saksi Andi Syamsudin – adik kandung NZ yang cukup tebal.

Penulis mengakui bahwa sebagian besar informasi yang diambil dari sudut pandang yang menguntungkan AA. Hal ini lebih karena sulitnya akses dengan pihak-pihak yang memunculkan kejanggalan-kejanggalan perkara ini, kepolisian misalnya. Namun demikian, pendapat mereka yang bersebrangan dengan pihak AA yang dikutip media pun ditampilkan sebagai penyeimbang.

Ternyata memang, hukum di Negeri ini tak mengenal hitam dan putih, penuh intrik dan manipulasi. Tak ada yang benar-benar terbebas dari kemungkinan terjerat hukum, sebersih apapun ia. Akankah AA menjumpai keadilan? Beranikah penegak hukum Negeri ini mengungkap semuanya dan menyeret sosok pelaku yang sesungguhnya, tak peduli jika ia seorang dajjal sekalipun? Meski kini, KPK di mana AA pernah mengabdi tengah sekarat di genggaman jiwa muda Abraham Samad. Dan POLRI semakin bobrok!

Artikel asli : http://www.kompasiana.com/nengo/antasari-azhar-saya-dikorbankan_54f350857455139e2b6c70a2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Antasari Azhar © 2016 Frontier Theme